Jiwa sehat vs jiwa rapuh

Untuk dapat hidup sukses dan bermanfaat bagi orang banyak, seorang individu tidak hanya perlu pintar dan mempunyai pengetahuan yang luas. Mereka juga perlu memiliki jiwa yang sehat, kuat dan tahan banting. Jiwa yang sehat dan kuat, tidak hanya membuat mereka mampu mengatasi berbagai rintangan dan cobaan, namun juga mampu membuat mereka segera bangkit bila ada hantaman badai kehidupan menerjang[1]. Bapak Houtman Zainal Arifin (1950-2012) mempunyai jiwa yang kuat dan tahan banting. Meskipun hanya berbekal ijazah SMA dan harus memulai hidup di Jakarta sebagai pedagang asongan, beliau dapat diterima bekerja dan…

Read More

Laporan Keuangan September 2015

Perlu kami sampaikan bahwa sejak beberapa bulan terakhir biaya konsultasi dokter dan obat ditanggung oleh Dinas Sosial Kabupaten Purworejo. Atas nama pengurus Tirto Jiwo, kami menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga. Semoga kedepannya, Tirto Jiwo dapat lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada penderita gangguan jiwa

Read More

Gaya berpikir catastrophising

Catastrophising adalah gaya berpikir yang membesar-besarkan suatu kejadian secara tidak proporsional dan menilai kejadian tersebut sebagai bencana, mengerikan, buruk sekali, atau menakutkan walaupun sebenarnya kejadian tersebut hanya biasa biasa saja. Gaya berpikir catastropising dapat disamakan dengan alat tanda bahaya yang terlalu sensitif. Bila hanya ada gempa kecil, terus tanda bahaya tsunami menjadi aktif, pastilah di daerah tersebut akan terjadi kepanikan yang tidak perlu. Begitu pula dengan gaya catastrophising, ibaratnya orang tersebut mempunyai alat tanda bahaya yang terlalu sensitif sehingga hal yang kecilpun dinilai atau diartikan sebagai tanda akan munculnya suatu…

Read More

Gaya berpikir emosional reasoning

Gaya berpikir emotional reasoning adalah gaya berpikir dimana seseorang menilai diri sendiri, orang lain, atau menilai situasi berdasarkan perasaan orang tersebut. Perasaan yang bersangkutan menjadi alasan dalam menilai sesuatu, seseorang atau menilai situasi. Satu satunya alasan bahwa suatu yang jelek akan terjadi karena orang tersebut merasa bahwa suatu yang jelek akan terjadi.  Ibu Ina merasa bahwa cemas, maka dia yakin bahwa sesuatu yang berbahaya akan terjadi hari itu. Pak Iwan sering merasa sedih ketika bekerja di kantor, kemudian dia berkesimpulan bahwa kantornya bukan tempat kerja yang bagus.  Pak Agus merasa gembira…

Read More

Gaya berpikir mental filtering

Gaya berpikir mental filter adalah gaya berpikir dimana seseorang menyaring sebagian informasi dan mengabaikan bagian informasi yang lain. Pada seseorang dengan kecenderungan depresi, maka yang bersangkutan cenderung memasukkan informasi negative tentang dirinya dan mengabaikan informasi positif. Dilain pihak, seseorang dengan sikap kebesaran, maka informasi yang positif yang diterima, sedangkan informasi yang negative diabaikan. Pada kehidupan sehari-hari sebagian orang cenderung menyaring informasi yang mendukung idenya dan mengabaikan informasi yang berlawanan dengan idenya. Dengan banyaknya informasi sehingga orang harus memilah-milah informasi, maka mental filtering sering terjadi. Pak Santosa sering mempunyai ide awal…

Read More

Gaya berpikir personalisasi

Konsep awalnya, personalisasi adalah gaya berpikir dimana seseorang menyalahkan diri sendiri atas suatu kegagalan atau kejadian yang tidak menyenangkan, meskipun orang tersebut tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Misalnya ketika seseorang membakar roti dan terlalu gosong, maka orang tersebut menyalahkan dirinya sendiri, walau mungkin hal tersebut terjadi karena toaster (mesin pembakar roti) yang rusak. Personalisasi banyak dijumpai pada penderita dengan kecenderungan mengalami depresi Konsep personalisasi juga mulai dikembangkan dengan menerapkan pada seseorang yang cenderung menyalahkan seseorang (diri sendiri atau orang lain), bukan pada alat atau mesin sebagai penyebab kegagalan atau kejadian yang…

Read More

Gaya berpikir loncat ke kesimpulan

Gaya berpikir loncat ke kesimpulan berarti gaya berpikir dimana seseorang sudah mengambil kesimpulan tanpa benar benar mengetahui bukti yang mendukung kesimpulan tersebut. Meskipun kita sering sudah mempunyai dugaan atau perkiraan, namun hal tersebut belum tentu benar. Bila hal ini sering dilakukan, maka akan menyebabkan seseorang sering membuat kesimpulan yang keliru yang menyebabkan timbulnya situasi yang tidak menyenagkan. Ada dua jenis gaya berpikir loncat ke kesimpulan, yaitu: membaca pikiran orang (mind Reading) dan “meramal” atau predictive thinking. Dalam mind reading, kesimpulan diambil karena yang bersangkutan merasa dapat membaca apa yang dipikirkan…

Read More

Gaya berpikir membesar-besarkan atau mengecilkan

Dalam konsep aslinya, seperti yang banyak ditemui pada seseorang yang mengalami depresi, gaya berpikir ini seperti seseorang yang memakai kaca pembesar ketika melihat kebaikan (hal hal yang positif) pada orang lain dan mengecilkan hal hal positif tentang diri sendiri. Orang dengan gaya berpikir ini mengabaikan informasi positif tentang dirinya, dengan mengatakan “ itu hanya kebetulan saja” atau bila ada orang memujinya, dia mengatakan: “mereka hanya bersikap sopan dengan memuji dirinya. Itu semua hanya basa basi pergaulan” Pada manusia kebanyakan dengan jiwa yang lemah atau rapuh, mereka sering mengartikan informasi secara…

Read More

Gaya berpikir harus atau musti

Gaya berpikir harus atau musti adalah gaya berpikir dimana banyak kewajiban, keharusan atau larangan yang harus diikuti, termasuk untuk hal hal yang kecil atau tidak penting. Dalam kehidupan sehari hari kita sering mendengar kata kata “Aku harus” atau “kamu musti”, atau “itu harus”, “ itu tidak boleh, jangan”. Kata kata itu baik dan boleh boleh saja. Hanya menjadi “tidak membantu” atau bahkan merugikan bila kata kata itu diterapkan untuk memenuhi permintaan atau larangan yang tidak penting atau tidak prinsip. Dalam kehidupan sehari-hari kadang terdengar kata kata: “saya tidak boleh membuat…

Read More

Gaya berpikir mental filtering

Gaya berpikir mental filter adalah gaya berpikir dimana seseorang menyaring sebagian informasi dan mengabaikan bagian informasi yang lain. Pada seseorang dengan kecenderungan depresi, maka yang bersangkutan cenderung memasukkan informasi negative tentang dirinya dan mengabaikan informasi positif. Dilain pihak, seseorang dengan sikap kebesaran, maka informasi yang positif yang diterima, sedangkan informasi yang negative diabaikan. Pada kehidupan sehari-hari sebagian orang cenderung menyaring informasi yang mendukung idenya dan mengabaikan informasi yang berlawanan dengan idenya. Dengan banyaknya informasi sehingga orang harus memilah-milah informasi, maka mental filtering sering terjadi. Pak Santosa sering mempunyai ide awal…

Read More